Rabu, 22 Desember 2010

I am a dreamer ! (pt. 2)

Kukira aku akan mati, makanya kututup mataku. Tapi tak kusangka, pisau itu sekarang bukan menancap di tubuhku, melainkan di tangan Taejun ! "Yaampun Taejun ! ngapain kamu disini ?!" Tanyaku terkejut melihat tangannya yang berlumuran darah. "Jangan berisik !" jawabnya lalu berbalik, dan dengan gesitnya dia menghajar preman-preman itu. Preman-preman itupun akhirnya kalah dan segera lari meninggalkan uang anak kecil itu. Akupun segera mengambil uang itu dan memberikannya pada anak kecil yang di palak tadi. "Syukurlah kamu tidak apa-apa. Ayo jangan nangis, uang kamu kan masih ada !" kataku menghiburnya. "Bu.. bukan itu .. Aku .. Sedihh .. melihat .. kakak .. itu .. hik" Akupun yang lupa dengan Taejun segera berbalik dan menghampirinya yang duduk sambil memegang tangannya yang terluka. "Kau ini bodoh, untuk apa kamu menolongku tadi ?" Tanyaku kesal lalu duduk di sebelahnya. "Kau yang bodoh. Tindakanmu tadi sih memang mulia, tapi juga ceroboh. Kau mau nyari mati ya ? Untung saja tadi aku sempat menolongmu saat kamu ingin dibunuh oleh mereka, kok kamunya yang malah ngomel-ngomelin aku sih. Tidak tahu terimakasih." Jawabnya cemberut. "Iya deh, terimakasih ya telah menyelamatkanku. Oh ya dik, kamu boleh pulang kok. Lebih aman kalau kamu di rumah, dan lain kali hati-hati ya." kataku sambil tersenyum. "Ma.. makasih ya kak.." kata anak itu mengusap air matanya lalu pergi meninggalkan kami berdua. Akupun segera membantu Taejun, tapi dia menolak. "Yang sakit bukan kakiku tahu. Aku bisa jalan sendiri kok." Katanya sok tapi masih merintih karena kesakitan. "Kau ikut kerumahku ya. Aku akan mengobatimu." kataku prihatin terhadap tangannya Taejun. "Tidak usah, ini cuma luka kecil. Aku ini cowo, tidak gampang nangis sepertimu." jawabnya meledek. "Ugghh, liat saja kalau nanti tangan kamu sudah sembuh ! akan aku..." "Iya-iya cuma bercanda. Aduh, lukaku makin sakit gara-gara kamu ngomong sih." ujarnya. "Jangan berlebihan deh. Sudahlah, pokoknya kau harus ikut denganku." paksaku sambil menarik lengannya. Kamipun akhirnya tiba di rumahku. Aku tinggal sendiri karena  kedua orangtuaku harus pergi ke Inggris , ada urusan pekerjaan yang menurutku hanya untuk melatih kemandirianku. Akupun segera mengantar Taejun ke kamarku untuk mengobati lukanya. "Sudah kubilang tidak usah , nanti sembuh sendiri kok" komentarnya sengit. "jangan cerewet. kemarikan tanganmu" kataku lalu mengobati darahnya. "Nahh selesaii !!" ujarku lalu melihatnya. Entah mengapa ada perasaan yang tidak enak saat aku menatap matanya. Dan tiba-tiba, dia langsung mendekat......







TO BE CONTINUED

Tidak ada komentar:

Posting Komentar